BLT, BLSM, dan Demokrat

Bagi penguasa, rakyat miskin adalah komoditas untuk bertahta dan melanggengkan kursi. Keberadaan rakyat miskin sangat penting dan mungkin perlu terus dilestarikan demi pelanggengan kekuasaan dan pencitraan.

Selama dua tahun, Partai Demokrat (PD) menjadi “selebritas”, yang dikonsumsi pemirsa mulai dari ruang tamu sampai dapur. Dia dikupas tuntas berbagai media. Hingga kemudian PD menyelenggarakan Kongres Luar Biasa di Bali. Namun, semua itu belum dapat mendongkrak nilai Demokrat.

Tentu saja lawan-lawan politik tertawa bebas atau tersenyum simpul menyaksikan Partai Demokrat yang terus terdegradasi menuju “zona Darurat”. Para Petinggi PD panik karena jajak pendapat mutakhir terus menurun, seperti yang dilakukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Pada Januari 2012, PD memperoleh 11,1 persen dan tinggal 7,1 persen pada 2013. Menurut Vermonte, hasil tersebut karena tidak ada perubahan signifikan walaupun bangku kursi ketua umum sudah diambil alih SBY.

PD pertama kali mengikuti pemilihan umum pada tahun 2004, dan meraih suara sebanyak 7,45 persen (8.455.225) dari total suara sah 113.462.414 , mendapatkan kursi sebanyak 57 di DPR. Pada pemilu 2009, PD menjadi pemenang dengan suara 21.703.137. Ini lompatan luar biasa. Lalu apa resepnya ?

Ketua Umum Partai Demokrat Pertama, Subur Budhisantoso, dan Sekretaris Jenderal, Umar Said, benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Kesempurnaan PD lengkap ketika SBY bergabung seusai mengundurkan diri dari Menkopolkam pemerintahan Megawati. SBY mendapat “pulung” karena dizalimi Presiden Megawati dan mendiang suaminya, Taufik Kiemas.

PD melesat bagaikan roket sekaligus menghantarkan SBY menjadi Presiden RI tahun 2004. Hasil Pemilu Legislatif 2004, PD merupakan suara asli spontanitas rakyat mendukung SBY. Setelah memegang tampuk pemerintahan, SBY terus menyempurnakan kekuasaanya dengan berbagai macam program, termasuk Bantuan Langsung Tunai pada tahun 2005 dan 2008 yang diberikan kepada sekitar 19 juta rakyat miskin.

Tahun 2008 dan 2009, SBY menurunkan harga BBM sampai 3 kali, dan terus memberi Bantuan Langsung Tunai. Ini cukup ampuh untuk mengeruk suara rakyat sehingga PD menjadi pemenang Pemilu Legislatif 2009 dengan perolehan suara 21.703.137 (20,4 persen) dari total suara sah 104.099.785 dan berhak atas 148 kursi (26,4 persen) di DPR. Ini berimbas signifikan atas terpilihnya SBY-Boediono pada Pilpres 2009 dalam satu putaran.

BBM dan BLT

Program BLT Juni–Agustus 2008, tiap keluarga dijatah 300 ribu rupiah, dan 400 ribu pada September–Desember 2008. Tahap kedua itu, BLT terealisasi untuk 18,7 juta keluarga dengan dana sekitar 12 triliun. Pada Bulan Januari dan Februari 2009, program BLT dilanjutkan dengan dana sebesar 3,8 triliun rupiah untuk 18,5 juta rumah tangga sasaran. Dengan dana kampanye sebesar itu, tak akan ada satu partai atau tokoh mana pun yang mampu bersaing dengan PD dan SBY.

Tanggal 22 Juni 2013, SBY kembali mengerek harga BBM, premium menjadi 6.500 rupiah dan solar 5.500 rupiah. Meski didemo, kenaikan jalan terus.

Pemilu sudah di depan mata. SBY sangat paham bahwa kader PD tak bisa diandalkan, tapi kekuasaan harus tetap di tangan. Dengan dua jabatan di tangan, menjadi pertaruhan besar. SBY adalah Ketua Dewan Syuro sekaligus Ketua Tanfidz PD. Tentu keharusan menang menjadi tugas besar. Kekalahan pada pemilu 2014 akan menjadi aib besar bagi SBY.

Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) 26,7 triliun rupiah segera turun untuk menyihir rakyat miskin yang sudah terbiasa susah secara psikologis tidak akan terganggu dengan kenaikan harga.

Aksi BLSM sangat mujarab dan langsung mendapat sambutan hangat masyarakat. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia menunjukkan, hampir separuh dari 1.200 responden di 33 provinsi menganggap SBY dan Demokrat paling memperjuangkan program untuk 15,5 juta rumah tangga miskin itu. SBY dan Demokrat bisa sedikit lega dengan hasil survei ini.

Mengulang kesuksesan strategi 2009, mungkinkah SBY akan menurunkan harga BBM dibarengi dengan menggelontorkan BLSM? Bagi penguasa, rakyat miskin adalah komoditas untuk bertahta dan melanggengkan kursi. Keberadaan rakyat miskin sangat penting dan mungkin perlu terus dilestarikan demi pelanggengan kekuasaan dan pencitraan.

Catatan adminstratif rakyat miskin menjadi penting dan BPS pun berguna untuk alasan “program sinterklas” yang menjanjikan keindahan malam Natal. Partai koalisi pasti akan mengamini karena kebijakan ini terlalu populis. Mereka pun mendukung kenaikan harga BBM, apalagi menurunkannya dibarengi BLSM.

Sekitar 15,5 juta kepala keluarga yang menjadi objek BLSM cukup bagi SBY untuk mengeruk sekitar 30 juta suara buat PD. Suara Demokrat adalah suara BLT dan BLSM. Sungguh “hebat” SBY. Nasib partai koalisi akan seperti orang buta kehilangan tongkat dua kali. (Sumber: Koran Jakarta.Com, 4 Juli 2013)

Tentang penulis:
Sri Mulyono, lulusan Unsri, Palembang

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s