Jumlah Dana Kampanye 12 Parpol Hampir Rp1 Triliun, Siapa Sumbernya?

Ini baru laporan tahap awal. Publik diminta keras mengawasi.

VIVAnews – Ini soal dana kampanye Pemilu 2014. Unsur yang menjadi salah satu penentu apakah seorang kandidat atau partai politik bergigi atau tidak demi meraup suara. Komisi Pemilihan Umum telah menerima laporan dana kampanye periode I dari 12 partai politik nasional peserta Pemilu 2014 pada 27-30 Desember 2013. Dari laporan tersebut, total sumbangan dana kampanye yang diterima seluruh parpol itu nyaris mencapai Rp1 triliun. Jumlah persisnya Rp974,53 miliar. Dari laporan diketahui bahwa separuh lebih dari sumbangan dana kampanye itu dikuasai oleh 4 parpol – Gerindra, Demokrat, Hanura, dan PDIP. Keempatnya menerima sumbangan dana kampanye di atas Rp100 miliar. Sebanyak 3 parpol (PAN, Golkar, PKB) menerima sumbangan Rp50-100 miliar. Sementara 5 parpol sisanya (PPP, Nasdem, PKS, PBB, PKPI) mendulang sumbangan paling kecil, jumlahnya di bawah Rp50 miliar.
Seusai aturan KPU, parpol hanya boleh menerima sumbangan dari lima pihak yakni partai, caleg, perorangan, kelompok, dan badan usaha. Laporan penerimaan sumbangan itu harus disampaikan secara berkala. Setelah periode I ini, laporan dana kampanye berikutnya wajib diserahkan parpol kepada KPU pada 2 Maret 2013.
Partai Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden, mencetak rekor sebagai partai penerima sumbangan dana kampanye terbesar. Jumlah total Rp184.580.579.070. Seluruh sumbangan itu berasal dari calon anggota legislatif partai ini. Tak ada yang berasal dari parpol Gerindra itu sendiri, perorangan, kelompok, maupun badan usaha.
Partai Demokrat berada di bawah Gerindra dengan mengumpulkan total sumbangan dana kampanye sebesar Rp139.091.134.444. Sumbangan itu berasal dari parpol Demokrat itu sendiri sebesar Rp235 juta, dan caleg mereka berupa barang senilai Rp85.955.550.957 dan jasa senilai Rp52.900.583.487. Tak ada sumbangan dari perorangan, kelompok, dan badan usaha untuk partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono itu.
Partai Hanura di urutan ketiga dengan menerima sumbangan dana kampanye sebesar Rp136.372.137.926, berupa uang tunai senilai Rp5.296.000.000, barang senilai Rp10.840.193.000, dan jasa senilai Rp120.715.944.926. Sumbangan tersebut berasal dari parpol Hanura itu sendiri sebesar Rp13.560.818.075, dari caleg mereka sebesar Rp122.638.819.851, dan dari perorangan (11 orang) berupa uang tunai yang jika ditotal berjumlah Rp202.500.000.
Parpol pimpinan Wiranto itu tak mendapat sumbangan dari kelompok, namun mendapat sumbangan dari dua badan usaha, yakni PT Continental MC di Jalan AM Sangaji Nomor 12 Jakarta berupa uang sebesar Rp250 juta dan PT Putra Mas NN di Jalan Gowongan Kidul Nomor 50 Yogyakarta berupa uang sebesar Rp200 juta.
Selanjutnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di urutan keempat pengumpul sumbangan dana kampanye terbesar dengan jumlah Rp130.842.436.120. Rincian sumbangan tersebut berasal dari parpol PDIP itu sendiri berupa uang sebesar Rp26.640.250.373, dan dari caleg berupa jasa senilai Rp103.047.185.747. Tak ada sumbangan dari perorangan, kelompok, maupun badan usaha yang diterima partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu.
Partai Amanat Nasional di urutan kelima menerima sumbangan dana kampanye Rp86.342.968.557, dengan rincian uang tunai sebesar Rp7.464.082.202 dan jasa senilai Rp78.878.886.355. Sumbangan itu berasal dari parpol PAN itu sendiri berupa uang tunai Rp9.032.202, dari caleg mereka di 77 daerah pemilihan berupa uang tunai Rp2.850.000.000 dan jasa Rp78.878.886.355, dari perorangan (7 orang) sejumlah Rp450 juta, dan dari kelompok – Firma Hukum Adnand Kelana Heryanto & Hermanto di Chase Plaza Lantai 18, Jalan Sudirman Kavling 21, Jakarta – berupa uang tunai Rp4.180.050.000. Tak ada sumbangan dari badan usaha untuk partai pimpinan Hatta Rajasa itu.
Partai Golkar di urutan keenam menerima sumbangan dana kampanye Rp75.037.763.861. Sumbangan tersebut berasal dari partai Golkar itu sendiri berupa uang tunai Rp2.002.000.000, dan dari caleh berupa jasa senilai Rp73.035.763.861. Tak ada sumbangan dari perorangan, kelompok, maupun badan usaha untuk partai pimpinan Aburizal Bakrie ini.
Partai Kebangkitan Bangsa di urutan ketujuh menerima sumbangan dana kampanye Rp54.204.938.236. Sumbangan tersebut berasal dari parpol PKB itu sendiri berupa uang Rp4.657.018.958, dan dari caleg berupa jasa senilai Rp49.547.919.278. Tak ada sumbangan dari perorangan, kelompok, maupun badan usaha untuk partai pimpinan Muhaimin Iskandar itu.
Partai Persatuan Pembangunan di urutan kedelapan menerima sumbangan dana kampanye Rp45.058.531.231. Sumbangan tersebut berasal dari parpol sejumlah Rp1.818.868.741, dan dari caleg berupa jasa senilai Rp43.239.662.490. Tak ada sumbangan dari perorangan, kelompok, maupun badan usaha untuk partai pimpinan Suryadharma Ali itu.
Partai Nasdem di urutan kedelapan menerima sumbangan dana kampanye Rp41.186.935.500, dengan rincian berupa uang tunai Rp550 juta dan barang senilai Rp40.636.935.500. Sumbangan tersebut berasal dari partai berupa uang tunai Rp550 juta, dan berupa barang (papan iklan atau billboard sebanyak 435.706 unit) senilai Rp25.779.504.000. Nasdem tak mendapat sumbangan dari calegnya, perorangan, maupun kelompok.
Namun ada sumbangan dari badan usaha untuk partai pimpinan Surya Paloh itu. PT Senjaya Bersama Usaha di Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat, menyumbang berupa 335 ribu unit barang senilai Rp2.428.750.000. PT Mitra Raharja Sejahtera di Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat, menyumbang 335 ribu unit barang senilai Rp2.428.750.000. PT Salira Indah di Jalan MH Thamrin Nomor 9, Jakarta, menyumbang 769.226 unit barang senilai Rp4.999.969.000. Terakhir PT Property Java di Jalan Raya Joglo Nomor 48, Jakarta, menyumbang 689.650 unit barang senilai Rp4.999.626.500.
Partai Keadilan Sejahtera di urutan kesepuluh menerima sumbangan dana kampanye Rp32.481.388.425,90. Sumbangan tersebut berasal dari parpol berupa uang sejumlah Rp932.768.529,90, dari caleg berupa uang Rp12.389.400.000 serta jasa Rp18.729.219.896, dan dari perorangan (6 orang) berupa uang Rp430 juta. Tak ada sumbangan dari kelompok maupun badan usaha untuk partai pimpinan Anis Matta itu.
Partai Bulan Bintang di urutan kesebelas menerima sumbangan dana kampanye Rp29.654.547.785. Sumbangan tersebut berasal dari parpol PBB itu sendiri berupa uang Rp50 juta serta barang senilai Rp496.675.000, dan dari caleg berupa jasa senilai Rp29.107.872.785. Tak ada sumbangan dari perorangan, kelompok, maupun badan usaha untuk partai yang mengusung Yusril Ihza Mahendra sebagai calon presiden itu.
Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia di urutan terakhir menerima sumbangan terkecil sejumlah Rp19.682.719.813. Sumbangan tersebut berasal dari parpol PKPI itu sendiri berupa uang Rp4 miliar, dan dari caleg berupa jasa senilai Rp15.682.719.813. Tak ada sumbangan perorangan, kelompok, maupun badan usaha untuk partai pimpinan Sutiyoso itu.

Dana kampanye tentukan kekuatan politik?

Koalisi Pemantauan Dana Kampanye meminta Badan Pengawas Pemilu dan publik ikut memantau benar atau tidaknya laporan dana kampanye yang disampaikan parpol-parpol itu. “Sekaligus menilai partai mana yang dipandang baik dari sisi akuntabilitas keuangan kampanye,” kata Koordinator Divisi Korupsi ICW, Ibrahim Fahmi Badoh. ICW tergabung dalam Koalisi Pemantauan Dana Kampanye itu.
Pengamat politik UI Boni Hargens memprediksi ada tiga blok politik yang bertarung pada Pemilu 2014. Blok pertama Jokowi, blok kedua Prabowo Subianto, dan blok ketiga dimotori Partai Golkar. Partai Demokrat, PAN, dan PKB diramalkan masuk ke blok Prabowo bersama Gerindra. Sementara PKS, PPP, dan PBB diperkirakan bergabung ke blok Golkar.
Prediksi itu jadi kenyataan atau tidak di Pilpres 2014, itu sangat tergantung pada dua faktor – perolehan suara partai di pemilu legislatif dan besaran dana kampanye. UU Pilpres mensyaratkan parpol atau koalisi parpol meraih 20 persen suara nasional atau 25 persen kursi DPR untuk dapat mengajukan calon presiden dan wakil presiden.
Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat, sependapat dengan Boni Hargens. Menurut dia, calon presiden 2014 paling banyak hanya bisa tiga orang karena syarat pengajuan capres di UU Pilpres amat berat. “Mereka sudah pasti orang-orang yang punya dukungan partai besar. Saya menduga tidak ada satupun partai yang dapat mencalonkan presiden tanpa berkoalisi. Begitu sulit,” ujarnya.
Kekuatan politik masing-masing bakal capres juga bisa diukur dari sumbangan dana kampanye yang diterima partai pengusungnya. PDIP dan Gerindra merupakan dua partai penerima dana kampanye terbesar. Ini sedikit banyak akan membantu memuluskan langkah capres mereka masing-masing.

Sumber: Vivanews Selasa, 31 Desember 2013, 20:04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s